Upah
dan Perjuangan Upah Gerakan Buruh
Selamat kepada seluruh kaum buruh
yang berani melawan untuk mempertahankan hak-hanya, sebab sedikit apapun hak
tersebut tetapi kita mendapatkannya dengan tenaga, keringat dan kesungguhan maka jangan biarkan mereka merampas
kembali hak tersebut dari kita dan keluarga kita. Dalam sejarah peradaban
system kerja upahan (system kapitalisme) maka tidak ada pengusaha yang serta
merta memberikan upah selayak-layaknya kepada kaum buruh sebagai imbalan kerja
keras, kaum buruh bukan hanya di Bekasi dan Tangerang tetapi diseluruh wilayah
nusantara bahkan diseluruh belahan dunia dimana system kapitalisme berkuasa
harus mengerahkan kekuatannya untuk mendapatkan nilai upah selayak-layaknya
bagi dirinya dan keluarga, berkali-kali aksi buruh harus dilakukan di
wilayah-wilayah dalam proses penentuan upah ditingkat kota/kabupaten hal ini
dilakukan agar Dewan pengupahan menetapkan upah yang layak dan manusiawi,
meskipun sering sekali upaya perjuangan kita gagal mendapatkan hasil karena banyak
sekali Dewan Pengupahan kota/kabupaten yang telah dikuasai oleh pemilik modal
(Apindo) dan belum tumbuh suburnya kesadaran pada mayoritas buruh Indonesia
bahwa Tidak ada hak buruh yang diberikan secara Cuma-Cuma oleh pengusaha dan
penguasa, hak kaum buruh hanya bisa didapat melalui Persatuan Perjuangan Buruh.
Perjuangan massa buruh di Bekasi
dan Tangerang yang menggunakan metoda perjuangan melampaui batas-batas yang
ditentukan oleh penguasa adalah tindakan yang berani, cerdas dan benar! Sebab
cara-cara perjuangan biasa-biasa seperti yang diinginan oleh pengusaha dan
penguasa ternyata hanya menhasilkan kerugian kepada kaum buruh bahkan di kab
Bekasi Apindo berulang kali melakukan pembohongan terhadap hasil perundingan,
berharap pada keadilan hakim juga bukan solusi bagi buruh sebab peradilan kita
sudah lama tajam menusuk ketubuh kaum buruh dan rakyat mayoritas tetapi tumpul
kepada para pemilik modal dan penguasa. Bila dilihat hanya pada capaian
mempertahankan nilai upah yang sudah ditetapkan maka kita dapat berpuas diri,
tetapi apakah nilai upah tersebut sesungguhnya telah Layak dan manusiawi serta
telah menjadikan buruh sebagai manusia seutuhnya?
Sesungguhnya bagi pengusaha,
buruh adalah sama dengan komoditas lainnya seperti mesin-mesin, bahan baku,
gedung dan alat produksi lainnya, tapi buruh adalah komoditas khusus yang mampu
merubah keseluruhan komoditas barang mati tersebut menjadi komoditas baru
(hasil produksi) yang menghasilkan keuntungan bagi pengusaha. Karena bagi
mereka buruh adalah komoditas maka upah buruh bukan dihitung berdasarkan hasil
kerja buruh selama berproduksi tetapi upah buruh cukup dihitung berdasarkan
kebutuhan buruh untuk hidup secara minimal agar buruh tetap dapat hadir
ditempat kerja dan melakukan kerja merubah komoditas mati menjadi komoditas
yang menghasilkan nilai baru (keuntungan) bagi si pengusaha. UMK, UMSK, bahkan
upah bagi pekerja 1 tahun keatas ditetapkan semata-mata agar buruh tetap hidup
dan dapat melakukan kegiatan produksi dan reproduksi. 46 komponen
yang menjadi standard Hidup layak Buruh pada PerMen Naker no 17 tahun 2005
jelas-jelas menunjukkan bahwa Penguasa menetapkan Buruh sebagai mahluk kelas
bawah karena dengan upah berdasarkan 46 komponen tersebut maka buruh tidak akan mampu hidup secara layak fisik maupun mental,
dan selama ini untuk mencapai kehidupan yang lebih baik maka kita kaum buruh
harus menambahkan jam bekerja (lembur) yang berarti harus mengorbankan
kesehatan tubuh, waktu untuk keluarga, waktu sosial, waktu berorganisasi,
bahkan tidak sedikit kaum buruh yang akhirnya terjerat teror utang karena
politik upah murah yang selama ini dijalankan oleh penguasa dan pengusaha. Jadi
meskipun UMK kab Bekasi 110% KHL tidak berarti buruh bekasi akan hidup layak
dan manusiawi, dan upah yang sudah sangat minim inilah yang coba dirampas
kembali oleh para pengusaha itu, maka tindakan persatuan perjuangan buruh kab
bekasi dan tangerang yang berani, militan dan cerdas adalah modal besar bagi
buruh Indonesia untuk terus memperjuangkan hidup layak dan berkemanusiaan
hingga penghisapan manusia atas manusia lenyap dari muka bumi.
Teror kepada klas buruh
Tindakan militan, berani dan
cerdas yang dilakukan oleh kaum buruh ternyata membuat resah dan marah
pengusaha dan penguasa dan serentak mereka melakukan teror kepada kaum buruh, Sofyan Wanandi (Apindo) meneror buruh soal akan berpindah (relokasi) para
pengusaha di kab bekasi ke kota lain bahkan keluar Indonesia, Marzuki Ali (Ketua DPR) mengecam dan
melarang buruh melakukan aksi seperti yang dilakukan buruh bekasi pada tanggal
27 januari 2012, kemudian Jenderal
Polisi Timor Pradopo (KaPolri) mengancam akan menindak tegas bila buruh
melakukan aksi menutup jalan lagi bahkan Mayjen TNI
Waris (Pangdam Jaya) mengancam akan mengusir dan memukul buruh bila
aksi menutup jalan, semua teror oleh pengusaha dan penguasa tersebut dilakukan
karena bangkitnya keberanian kaum buruh dalam merebut dan mempertahankan
hak-haknya.
Berharap
bahwa penguasa (rezim SBY-Boediono maupun rezim sebelumnya, maupun penguasa
kota/kabupaten dan propinsi) akan serta merta membela kaum buruh sesungguhnya
adalah harapan yang naïf, system upah murah yang selama ini diberlakukan adalah
akibat negeri ini dikuasai oleh penguasa yang menjadi antek kepentingan kaum
modal, mereka menyediakan kekuasaannya untuk melayani kehendak kaum modal dalam
meraup keuntungan sebanyak-banyaknya melalui kebijakan upah murah, liberalisasi
pasar tenaga kerja (outsourcing dan
kerja kontrak), kebebasan pembukaan pasar dan industry (liberalisasi modal),
kebebasan menjual hasil produksi industri dan pertanian (liberalisasi pasar),
rakyat dibiarkan bertarung sendiri dengan kekuasaan klas modal tetapi dalam
pertarungan itu penguasa berharap tangan dan kaki rakyatnya dapat diikat melalui
peraturan-peraturan hukum dan perangkat kekerasan negara, sehingga klas modal
bebas menghisap, memukul bahkan membunuh rakyat (termasuk kaum buruh), Itulah negara dan pemerintahnya dibawah
kekuasaan rezim modal Neoliberal.
Partai-partai politik yang seharusnya
berlomba-lomba sebagai alat untuk memperjuangkan anggotanya (yaitu rakyat)
nyata-nyata selama perjuangan upah kemaren hanya diam dan tidak melakukan
pembelaan kepada kaum buruh, sesungguhnya partai-partai politik saat ini tidak
ubahnya seperti Perseroan Terbatas (PT) dimana masing-masing partai sudah ada
pemiliknya, sehingga anggota partai (rakyat) hanya sebagai pelengkap administratif semata dan angka-angka saat
Pemilu dilaksanakan, kehendak pemilik partai lah yang utama dibandingkan
kehendak mayoritas anggota, para pemilik partai politik tersebut adalah mereka
yang mempunyai modal besar dan menjadikan partai politik, kekuasaan di DPR,
serta kekuasaan di istana sebagai alat untuk memperbesar kekuasaan modalnya. Itulah demokrasi dibawah kekuasaan rezim
modal Neoliberal.
Alat-alat kekerasan negara
Polri
yang telah dipisahkan dari TNI ternyata masih mewarisi perilaku sadis dan watak
kekerasan, masih cukup segar dalam ingatan kita kejadian Mesuji, Bima dan
terakhir adalah kejadian di Rokan hulu, melalui senjata-senjata yang dibeli
dengan uang rakyat dan keahlian menembak yg didapat dari pendidikan yang
dibiayai oleh rakyat mereka mengarahkan bahkan menembakkan senjatanya kepada
rakyat yang berani berlawan kepada kaum modal, jadi pernyataan Kapolri adalah
cermin posisi Polri sebagai pelindung kaum modal, dan hal yang sama juga
dilakukan oleh TNI, tanpa tahu malu Pangdam Jaya Mayjen TNI Waris mengancam akan mengusir dan memukul buruh, dan
pada banyak kejadian tentara bukan hanya mengancam tetapi telah melakukan
kekerasan terhadap buruh yang berlawan, pembunuhan
terhadap Marsinah tidak akan pernah kita lupakan. Meskipun undang-undang
tentang TNI dan Polri telah dirubah tetapi watak kekerasan kepada rakyat yang
berlawan tetap melekat pada institusinya, seharusnya moncong senjata TNI dan
Polri diarahkan kepada kaum modal serta penguasa yang menjadi anteknya kaum
modal karena merekalah yang telah nyata-nyata berhianat terhadap cinta-cita
proklamasi Agustus 1945, bukan kepada rakyat yang berlawan, tetapi Itulah Polisi dan TNI dibawah kekuasaan
rezim modal Neoliberal.
Persatuan
dalam perbedaan, perbedaan dalam persatuan
Bila kita ingat kembali
psikologis massa aksi yang terjadi pada perjuangan upah dimana semua buruh
merasa sebagai saudara, saling sapa dan saling memberi semangat terjadi selama
aksi dilakukan, sekat-sekat tempat kerja, jenis industri tempat kerja, bendera
organisasi apalagi soal SARA hilang dan tidak lagi mampu menghalangi semangat
persatuan perjuangan kaum buruh, situasi yg mirip bila kita membaca, mendengar
atau menonton peristiwa revolusi kemerdekaan nasional 1945.
Meskipun semangat persatuan
tampak jelas oleh seluruh kaum buruh yang berlawan tetapi tetap ada terlihat
perbedaan-perbedaan, hal-hal yang sebenarnya tidak pokok dalam perjuangan buruh
saat ini tetapi terkadang menjadi gangguan dalam membangun persatuan perjuangan
yang lebih besar pada kaum buruh. Sejarah berlawan kaum buruh Indonesia memang
pernah mengalami masa kegelapan, saat Rezim Orde baru-Soeharto memposisikan
buruh sebagai ancaman nomor satu kekuasaannya sehingga organisasi buruh diberangus bertahun-tahun, bahkan organisasi
buruh resmi yang tetap ada menjadi ujung tombak untuk memberangus bibit
berlawan yang ada pada kaum buruh saat itu. Saat kebebasan berorganisasi sudah kita
dapatkan maka menentukan pokok perjuangan buruh dan cara
memperjuangkannya sering sekali menjadi persoalan dalam membangun persatuan
kaum buruh, serikat buruh harusnya menjadi sekolah terbaik kaum buruh untuk
mendidik buruh paham hak-haknya, berani memperjuangkannya serta mencetak ribuan
kader rakyat yang akan memimpin perjuangan pembebasan rakyat Indonesia dari
penjajahan kaum modal, jangan soal bendera, nama organisasi, apalagi sekedar
kepentingan segelintir orang membuat persatuan perjuangan kaum buruh Indonesia
menjadi terhambat dan terhancurkan, Bangkitlah
Persatuan Perjuangan Buruh Indonesia!
Persatuan perjuangan buruh Indonesia
Persoalan politik upah murah
telah disadari menjadi persoalan rakyat Indonesia saat ini, Persoalan Outsourcing dan system kerja
kontrak juga sudah disadari akan mengakibatkan buruh tidak memiliki
kepastian hidup dan masa depan, soal kebebasan berorganisasi juga sudah
disadari saat ini, tetapi persoalan buruh Indonesia bukan hanya itu saat ini, liberalisasi ekonomi yang berakibat
dicabutnya tanggung jawab negara dalam menyediakan barang kehidupan yang
terjangkau dan layak (subsidi) juga menjadi persoalan buruh karena kualitas
upah buruh akan semakin berkurang seiring dengan semakin mahalnya barang-barang
pokok, liberalisasi pasar bagi
produksi luar negeri yang berakibat membanjir nya barang-barang produksi luar negeri
dan berakibat hancurnya kemampuan produksi para petani dan hancurnya industri-industri
dalam negeri juga menjadi persoalan buruh sebab akan semakin banyaknya tenaga
produktif yang tidak bekerja (pengangguran) yang berakibat semakin rendahnya
posisi tawar kaum buruh dihadapan kaum pemodal, persoalan demokrasi yang dikuasai oleh kekuatan uang juga menjadi
persoalan kaum buruh, sebab seluruh kebijakan yang dihasilkan hanya akan
menguntungkan kaum modal, sedangkan rakyat yang berlawan akan dihadapkan dengan
alat-alat kekerasan negara uang ini. banyak lagi persoalan-persoalan lainnya
yang selama ini seakan-akan bukan menjadi tugas perjuangan gerakan buruh, buruh adalah
rakyat yang hidupnya secara bersamaan menjadi komoditas dipabrik serta menjadi
rakyat terhisap diluar pabrik, sudah menjadi tugas sejarah kaum buruh untuk
memimpin perjuangan rakyat mayoritas yang terus berlawan pada kerakusan kaum
modal tanpa pernah melupakan perjuangan ditempat kerja.
Tugas sejarah yang besar dan
mulia tersebut tidak akan mungkin dapat dilakukan bila kekuatan kaum buruh
terus berserak dan terpecah-pecah ditengah-tengah kita melihat persatuan yang
ditunjukkan oleh sesama kaum modal serta persatuan kaum modal dan penguasa.
Keinsafan kita tentang pentingnya persatuan kaum buruh menjadi modal besar
untuk kita memimpin persatuan perjuangan rakyat dengan rakyat tani, rakyat
nelayan, mahasiswa, dan rakyat miskin diperkotaan. Hanya dengan persatuan
perjuangan rakyat yang terpimpin dan terdidiklah tugas sejarah pembebasan dunia
dari penghisapan manusia terhadap manusia dapat kita menangkan, bukan dengan
berharap pada kebaikan elit politik di DPR maupun istana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar